TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG SEMOGA BERMANFAAT :D

zakat dan sistem pengelolaannya



BAB DUA
ZAKAT DAN SISTEM PENGELOLAANNYA

A.      Pengertian Zakat dan Dasar Hukumnya
Zakat menurut bahasa berarti an-nama’ (kesuburan), thaharah (mensucikan), syara’ memakai kalimat tersebut dengan kedua pengertian ini. Pertama, dinamakan pengeluaran harta ini dengan zakat adalah karena zakat itu merupakan suatu sebab yang diharapkan akan mendatangkan kesuburan dan pahala. Oleh karena itu dinamakan zakat. Kedua, dinamakan zakat adalah karena zakat itu merupakan suatu kenyataan dan kesucianjiwa dari kekikiran dan dosa.[1]

Imam Syafi’i memberikan pengertian zakat adalah suatu bagian harta benda yang dikeluarkan oleh si muzakki untuk keperluan membersihkan hartanya dan diberikan kepada orang yang berhak menerimanya.[2]
Menurut asy-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar, zakat diartikan:
الزكاة هى اعطاء جزء من النصاب الى فقير ونهى غيره متصف بمانع شرعى يمنع من الصرف اليه.[3]
Artinya: Zakat adalah memberikan sebagian harta yang mencapai nisab kepada orang fakir dan seumpamanya yang tidak mengandung halangan penggunaannya menurut syara’.
Sementara zakat menurut istilah syara’ adalah mengeluarkan sebagian dari harta yang dianugerahkan Allah Swt. untuk diberikan kepada mereka (pihak-pihak atau dalam urusan-urusan) yang telah ditentukan syara’, menurut aturan yang telah ditetapkan dalam Kitabullah, sunnah Rasul Saw. dan Undang-Undang Fiqh.[4]
Menurut Abdurrahman al-Jaziry, zakat adalah:
تمليك مال مخصوص لمستحقه بشرائط مخصوصة[5]
Artinya: Memberikan harta tertentu kepada yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu.
Selanjutnya, menurut Sayyid Sabiq, bahwa zakat adalah:
اسم لما يخرجه الإنسان من حق الله تعالى الى الفقراء[6]
Artinya: Nama sesuatu yang merupakan hak Allah Swt. yang dikeluarkan oleh manusia kepada orang-orang fakir.
Mahmud Syaltut memberikan defmisi zakat sebagai berikut
الصدقة اسم الجزء من المال يخرجه الغنى من ماله الى اخوانه الفقراء والى إقامة المصالح العامة التى تتوقف عليه حياة الجماعة من أصلها والنهضمها.[7]
Artinya: Sedekah (zakat) adalah nama untuk sebagian dari harta yang dikeluarkan oleh orang-orang kaya untuk saudara-saudaranya yang fakir dan untuk menegakkan kemaslahatan umum yang menjadi kebutuhan vital bagi masyarakat, baik untuk pemeliharaan masyarakat itu sendiri maupun untuk penertibannya.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat dipahami, bahwa zakat adalah mengeluarkan sebagian harta dari milik seseorang, guna diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya, sebagaimana yang telah ditentukan dalam Al- Qur’an dan sunnah serta ijma’ para ulama.
Zakat adalah salah satu aspek dari ajaran Islam. Allah Swt. telah menetapkan kewajiban zakat seiring dengan kewajiban shalat pada berbagai firman-Nya. Di samping itu, Nabi Saw. sebagai penjelas wahyu, telah pula memberi penjelasan tentang zakat dalam berbagai sabdanya, ditambah dengan uraian panjang lebar dari para ulama. Dasar hukum zakat yang dimaksudkan dalam pembahasan ini adalah:

1.      Al-Qur’an
Dasar hukum wajib zakat sangat banyak jumlahnya, sebagian di antaranya sudah diperincikan dan sebagian lagi masih bersifat umum. Seperti firman Allah Swt. dalam surat Al-Baqarah ayat 110:
وأقيموا الصلاة وءاتوا الزكاة وما تقدموا لأنفسكم من خير تجدوه عند الله إن الله بما تعملون بصير (البقرة: ١١)
Artinya: Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu dari kebaikan dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 110)
Dari ayat di atas tersirat bahwa diberikan wewenang bagi pengelola zakat/amil untuk mengambil zakat dari orang-orang yang berhak membayar zakat untuk dikelola dan diadayakan serta disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Pengambilan zakat dari para wajib zakat juga berfungsi untuk membersihkan dan mensucikan jiwa wajib zakat karena dalam harta mereka terdapat hak-hak orang lain yang harus ditunaikan.[8]
Selanjutnya firman Allah Surat At-Taubah ayat 103:
خذ من أموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها وصل عليهم إن صلاتك سكن لهم والله سميع عليم (التوبة : ١٠٣)
Artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensueikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At-Taubah: 103).
Ayat di atas menjelaskan bahwa zakat wajib ditunaikan sebagaimana kewajiban mendirikan shalat. Hal tersebut adalah demi kebaikan dan untuk memperoleh ridha Allah SWT. [9]
2.      Al-Hadits
SabdaNabi Saw. tentang hukum wajib zakat, di antaranya hadits:
عن ابن عمر رضى الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن وحمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة، وحج البيت، وصوم رمضان (رواه البخارى)[10]
Artinya: Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasul Saw. bersabda: Islam itu didirikan atas lima sendi, mengaku bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Nabi Muhammad itu Rasul Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji dan puasa ramadhan. (HR. Bukhari)

Demikianlah gambaran singkat mengenai wajib zakat melalui dalil yang umum, baik ayat maupun hadits.

3.      Ijma’ Ulama
Ijma’ ulama adalah kesepakatan para ulama salaf (terdahulu, klasik) dan ulama khalaf (kontemporer) telah sepakat terhadap kewajiban zakat dan bagi yang  mengingkarinya berarti kafir dan sudah keluar dari Islam.[11]  Para ulama klasik dan ulama kontemporer telah sepakat tentang zakat wajib dilakukan oleh setiap muslim yang memiliki harta benda dan telah sampai nisab seria haulnya.[12]

B.       Rukun dan Syarat Wajib Zakat
Dalam pelaksanaan kewajiban menunaikan zakat ini mempunyai syarat-syarat tertentu, di mana syarat-syarat itu ada yang menyangkut dengan para muzakki (orang-orang yang wajib berzakat) dan ada pula syarat-syarat yang menyangkut dengan harta-harta yang wajib dizakati.
1.         Syarat-syarat wajib zakat terhadap si muzakki yaitu:
-          Islam
-          Dewasa dan sehat akalnya.
2.         Syarat-syarat harta yang wajib dizakati
Mengenai syarat-syarat harta yang wajib dizakati adalah:
a.       Sampai nisab
Nisab adalah jumlah batas minimal dari harta kekayaan yang wajib dikeluarkan zakatnya. Nisab adalah:
ما نصابه الشارع علامة على وجوب الزكاة[13]

C.      Fungsi Zakat Sebagai Pranata Hukum dan Sosial
Salah satu dari pekerjaan melaksanakan perintah Allah Swt. adalah kewajiban menunaikan zakat bag؛ orang-orang yang telah memenuhi persyaratannya. Zakat merupakan ibadah yang mempunyai dua fungsi, yaitu hubungan dengan Allah Swt. dan hubungan dengan m،^us؛a. Apabila seseorang yang telah memenuhi persyaratannya wajib menunaikan zakat, maka berarti telah menunjukkan rasa taat dan patuh akan perintah Allah Swt. serta rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan kepadanya. Karena ia sadar bahwa harta kekayaan yang dimilikinya, pada hakikatnya adalah milik Allah Swt. Sedangkan dia adalah sebagai pemegang amanah terhadap anugerah yang diberikan Allah Swt. kepadanya. Makin taat manusia menjalankan perintah Allah Swt. dan meninggalkan laranganNya, maka semakin dekat pula ia dengan Allah dan akan mendapat pahala sesuai dengan pengabdiannya, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Al-Baqarah ayat 110:
وأقيموا الصلاة وءاتوا الوكاة وما تقدموا لأنفسكم من خير تجدوه عند الله إن الله بما تعملون بصير. (البقرة: ١١٠)
Artinya: Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 110)
Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat dari hartanya padahal telah memenuhi persyaratannya, maka harta tersebut akan menjadi ancaman bagi pemiliknya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:
من أتاه الله مالا فلم يؤد زكاته مثل له يوم القيامة شجاعا أقرع ذبيبتان يطوقه يوم القيامة ثم يأخذ بلهزمية يعنى شدفيه ثم يقول: أنا مالك، كنزك ثم تلا: لايحسن الذين يبخلون بما أتاهم الله من فضله هو خيرا لهو بل هو شرلهم سيطوقون ما بخلوابه يوم القيامة. (رواه البخارى)[14]
Artinya: Barang siapa yang diberikan Allah kekayaan, tetapi tidak membayarkan zakatnya, maka pada hari kiamat hartanya itu dijadikan ular bertaring dan dikalungkan di lehernya, lalu ular itu menggigit pipinya. Ia berkata: saya adalah barta engkau, simpanan engkau. Kemudian Nabi SAW membaca ayat: Dan janganlah mengira orang-orang kikir dengan harta yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya akan menjadi kebaikan bahkan kejahatan bagi mereka, nanti di hari kiamat akan digantungkan di leher mereka, harta yang mereka kikirkan itu. (HR. Bukhari)

Agama Islam sangat mementingkan kesejahteraan sosial bagi umatnya. Kesejahteraan sosial akan dapat terwujud apabila adanya sikap saling tolong- menolong antara orang yang kaya dengan orang yang miskin. Manusia di dunia ini ditakdirkan tid^k sama keadaannya, ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang kuat dan ada yang lemah, ada yang pandai dan ada yang bodoh. Pada hakikatnya, setiap individu tidak dapat hidup sendiri-sendiri, terutama dalam memenuhi kebutuhannya. Manusia harus hidup bermasyarakat dan saling bekerja sama antara sesama individu tersebut. Dengan demikian, dituntut kepada orang kaya agar membantu orang-orang miskin, sehingga hidup mereka tidak terlantar.
  Namun, kenyataan yang didapati dalam kehidupan sehari-hari adalah kurangnya sikap saling tolong-menolong, sehingga terdapat perbedaan status sosial ekonomi yang signifikan, yang melahirkan golongan ekonomi lemah dan ekonomi kuat. Golongan ekonomi lemah biasanya mencapai persentase yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan golongan ekonomi kuat.
Dengan adanya perbedaan antara dua golongan tersebut, maka akan membawa pengaruh yang besar tidak hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam pergaulan sesama masyarakat. Bahkan terkadang timbul rasa iri dan dengki terhadap yang kaya. Sebaliknya, orang kaya memandang rendah dan kurang menghargai terhadap yang miskin. Keadaan yang demikian akan menyebabkan terganggunya ketertiban dan kestabilan masyarakat.
Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang demikian, agama Islam dengan tegas menjelaskan golongan-golongan yang perlu disantuni melalui pemberian zakat yang diambil dari orang kaya dan diberikan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Melalui pelaksanaan dan pengelolaan zakat yang baik sebagai salah satu kewajiban agama, maka akan dapat mewujudkan kesejahteraan sosial bagi orang-orang yang membutuhkannya. Dengan demikian, hubungan yang baik antara orang kaya dengan orang miskin akan lebih mudah teijalin.
Apabila hal demikian telah tercapai, maka antara orang kaya dengan orang- orang miskin telah merasa adanya sikap saling memperhatikan, saling menghargai dan saling melindungi. Akhimya, jurang pemisah yang melebar antara kedua golongan tersebut telah dapat dijembatani melalui perintah menunaikan zakat. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surat At-Taubah ayat 11:
فإن تابوا وأقاموا الصلاة وءاتوا الزكاة فإخوانكم في الدين....(التوبة:١١)
Artinya: Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat (mereka) adalah saudara seagama...(QS. A.t-Taubah: 11)
Fungsi zakat sangat banyak dan penting, baik terhadap si kaya maupun si ء miskin, di antaranya adalah:
a.       Dengan adanya zakat akan dapat menolong orang yang lemah dan orang yang susah, agar dia dapat menunaikan kewajibannya te^adap Allah dan terhadap makhluk Allah Swt. (masyarakat).
b.      Membersihkan diri dari sifat kikir dan akhlak yang tercela, serta mendidik diri agar ber$ifat mulia dan pemurah dengan membiasaku membayar amanah kepada orang yang berhak dan berkepentingan.
c.       Sebagai ucapan syukur dan terima kasih atas nikmat kekayaan yang diberikan kepadanya. Tidak diragukan lagi bahwa berterima kasih kepada Sang Pemberi atas segala yang diberikan adalah sualu kewajiban.
d.      Guna menjaga timbulnya kejahatan-kejahatan dan golongan orang tidak mampu sebagai akibat dari kemiskinan dan keterbatasan yang mereka miliki. Di mana ada sebagian orang tidak dapat menerima keadaan diri mereka yang selalu berada dalam kekurangan, sehingga timbullah niatnya untuk berbuat jahat. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa kefakiran akan mndekatkan kepada kekufuran, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Ali Imran ayat 180:
ولا يحسبن الذين يبخلون بما ءتاهم الله من فضله هو خيرا لهم بل هو شر لهم.... (أل عمران:١٨٠)
Artinya: Janganlah menduga orang-orang yang kikir dengan harta yang dikaruniakan Allah kepadanya itu akan menjadi kebaikan bagi mereka, bahkan menjadi kejahatan dan kerusakan bagi mereka ... (QS.Aii Imran: 180)
e.       Guna mendekatkan dan menjalin hubungan kasih sayang dan cinta mencintai (ukhuwah Islamiyah) antara si kaya dan si miskin, di mana dengan eratnya jalinan kasih tersebut akan membuahkan kebaikan dan kemajuan serta berfaedah bagi kedua golongan itu si kaya dan si miskin khususnya) juga bagi masyarakat umumnya.
Berdasarkan uraian di a tas dapat dipahami, bahwa zakat itu sangat besar fungsinya, baik untuk diri orang yang berzakat (muzakki) maupun kepada mereka yang menerima (mustahik). Mendidik diri supaya bersifat pemurah dan penyayang kepada para fakir miskin dan orang-orang melarat serta membersihkan hati dari sifat kikir (bakhil). Memelihara kehidupan orang-orang fakir miskin dan orang yang tidak sanggup berusaha. Menumbuhkan sifat berkasih sayang antara semua umat Islam dan menguatkan persatuan rakyat. Membersihkan negeri dengan mem؛n؛mal؛s؛r angka kejahatan pencurian, perampokan, pembunuhan dan kekacauan yang disebabkan oleh kemiskinan rakyat pada masa mendatang mereka yang kini menjadi mustahik kelak menjadi para muzakki yang mampu pula mengentaskan kondisi kesulitan mustahik lainnya.



D.      Hambatan dalam Pengelolaan Zakat
Sebagaimana diketahui bahwa setiap kegiatan mempunyai hambatan- hambatan dan kesulitan-kesulitan, baik hambatan itu kecil maupun besar. Demikian pula halnya hambatan-hambatan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam pengelolaan zakat, antara lain adalah:
1.      Pengarah ketidakberhasilan badan harta agama (yang pada akhimya dibubarkan) dapat menghilangkan kepercayaan masyarakat kepada badan pengelolaan zakat.
2.      Pemerintah daerah yang telah membentuk kepengurusan pengelola zakat sampai saat ini belum pernah memantau terhadap perkembangan pengelolaan zakat.
3.      Tidak adanya promosi dan publikasi dari pihak pengurus dan kurangnya kerja sama yang lebih luas dengan pihak-pihak lain, sehingga mengakibatkan masyarakat luas belum memahami tentang pengelolaan zakat.
4.      Kurangnya fasilitas kerja bagi para penguras dan kurangnya tenaga yang cukup waktu.
5.      Tidak adanya peraturan dari yang berwenang, sehingga masyarakat enggan memberikan zakatnya melalui pengelola zakat.
6.      Tokoh-tokoh masyarakat yang lebih tahu dan sudah mempunyai kewajiban berzakat tidak memberikan contoh.
7.      Sulitnya menyatukan persepsi tentang pengelolaan zakat antara pengurus dengan imam desa.[15]
Sampai saat ini ajaran Islam yang belum ditangani secara serius ialah mengoptimalkan pengumpulan dan pendayagunaan zakat, Infaq dan sadaqah dalam arti yang seluas-luasnya, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. serta penerus-penerusnya di zaman keemasan Islam.
Potensi zakat di Indonesia yang di atas kertas luar biasa besarnya, baru terkumpul sekitar 200 miliar rupiah per tahun, ini berarti hanya 3,1 % padahal secara matematis akan didapatkan angka sebesar 6,5 triliun rupiah per tahun, belum lagi ditambah dengan infaq, sadaqah dan wakaf. Dari kenyataan itu memberikan indikasi bahwa pengumpulan zakat yang diisukan oleh BAZ di semua tingkatan menunjukkan hasil yang kurang maksimal, sehingga pendayagunaan dan pendistribusian dana Zakat dimaksud belum memenuhi harapan dari semua pihak khususnya Mustahik.
Umat Islam adalah umat pertengahan (umaatan washatan) yang diturunkan ke muka bumi untuk mengemban risalah agar menjadi saksi segenap umat dan bangsa. Tugas umat Islam adalah mewujudkan tata kehidupan dunia yang adil, makmur tenteram dan sejahtera di bawah naungan ridha Allah Swt. dimanapun mereka berada, karena itu umat Islam seharusnya menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Potensi-potensi dasar yang dianugerahkan Allah Swt. kepada umat Islam belum dikembangkan secara optimal, padahal umat Islam memiliki banyak kaum
intelektual dan ulama, di samping sumber daya manusia dan ekonomi melimpah. Jika seluruh potensi itu dikembangkan dengan seksama, dirangkai dengan potensi aqidah Islamiyah dan kandungan ajaran Islam yang jernih, tentu akan memperoleh hasil yang optimal. Pada saat yang sama, kemandirian dan kesadaran beragama dan Ukhuwah Islamiyah kaum muslimin pun semakin meningkat, serta pintu-pintu kemungkaran akibat kesulitan ekonomi akan semakin dipersempit.[16]
Dimensi pemahaman zakat oleh sebagian besar umat Islam masih terfokus pada dimensi fikih, artinya zakat merupakan salah satu kewajiban umat Islam dan apabila ditunaikan lepaslah kewajibannya serta dimensi ibadah ritual semata, belum menyentuh ibadah sosial ekonomi, artinya zakat baru disadari sebagai ibadah yang hanya akan menyampaikan pelakunya pada kesempumaan ibadah, padahal umat Islam sebenarnya memiliki potensi dana yang sangat besar dan dapat digunakan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu secara optimal.



[1] Hasbi ash-Shiddieqy, Pedoman Zakat, Jakarta: Bulan Bintang, Cet. III, 1976, hlm. 5
[2] Abdurrahman al-Jaziri, Fiqh Empat Mazhab, (Terj. Ali Yafie)< Jilid VI, Cet. III, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1996, hlm
[3] Asy-Syaukani, Nailul Authar, Juz IV, Mesir: Mustafa al-Baby al-Halaby, Cet. II, t.t, hlm. 122
[4] Abu al-Fazal al-Afriki, Lisanul Arab, Beirut: Dar al-Hadits, 1982, hlm. 321
[5] Abdurrahman al-Jaziry, Kitab al-Fiqh ‘Ala Mazahib al-Arba’ah, Juz I, Beirut: Dar al-Fikr 1986, him. 590
[6] Sayyid Sabiq, Fuqhus Sunnah, Juz III, Mesir: Darul Bayan, 1974, hlm.5
[7] Mahmud Syaltut,  Al-Fatwa, Mesir: Darul Qalam, Cet. III, t.t, hlm. 114
[8] Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (Terj. Bahrun Abu Bakar dan Hery Noer Aly), Semarang: Toha Putra, 1994, hlm. 289
[9] Ibid, hlm. 321
[10] Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Juz I, Kairo: Darus Sha’bit, t.t., hlm.9
[11]  Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat, Studi Komparatif Mengenai Status dan Filsafat Zakat Berdasarkan Qur’an dan Hadits, (Ter. Salman Harun dkk.) Jakarta: Pustaka Mizan, 1996, hlm.87
[12] Ibid
[13] Abdurrahman Al-Jaziry, Op. cit., hlm. 593
[14]  Imam Bukhari, Op. cit., hlm. 132
[15] Hasil wawancara dengan Sayed Muhammad Husen, Kepala Bidang Pengumpulan Zakat Baitul Mal Provinsi NAD, Tanggal 21 Mei 2007
[16] Yusuf Qardhawi, Op. cit., hlm. 99
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Makalah Khaidir - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger