Diberdayakan oleh Blogger.

Pengertian Belajar



BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang masalah
Dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang menelaah berbagai bidang kehidupan dari makhluk hidup dan alam sekitarnya. Dalam mempelajari ilmu biologi perlu didukung oleh metode dan media yang tepat. Hal ini sangat penting yang diharapkan oleh pengajar dan peserta didik dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa. Bermacam-macam media dimunculkan serta dibantu dengan informasi terkini yang dapat diakses dari berbagai situs di media internet atau wiki pedia.
Diharapkan dalam mengembang proses belajar mengajar, guru harus mampu memadukan antara metode dengan media prngajaran yang sesuai dengan materi bahan ajar. Media dan metode yang digunakan guru dapat memberikan ransangan dan kesan bagi siswa serta menambahkan semangat untuk belajar. Dalam proses pembelajaran biologi, siswa tidak hanya belajar dengan mendengarkan ceramah dari guru saja, tapi juga perlu melihat langsung benda atau objek yang dipelajari tersebut. Dengan demikian proses belajar mengajar tidak kaku, karena dengan melihat langsung suatu benda siswa akan lebih cepat mengerti dan memahami tentang apa yang sedang diajarkan bapa/ibu guru.
Pemakaian alat bantu/media yangsering digunakan dalam proses belajar mengajar biologi memiliki makna sebagai peta atau denah yang dipergunakan sebagai alat bantu. Dengan adanya gambar siswa dapat menunjukkan letak, tempat, lokasi atau kedudukan bagian suatu benda, bagian dari makhluk hidup atau keseluruhan dari benda dan makhluk hidup anotominya.
Untuk penggunaan media dalam proses belajar mengajar sangat membantu siswa untuk mengenal dan melihat langsung tentang pa yang sedang diajarkannya. Pemanfaatan gambar sebagai media dalam mata pelajaran biologi diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, dengan memacu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa untuk menguasai materi yang diajarkan. Dengan demikian proses belajar siswa tidak haya bedasarkan tiori belaka, namun juga didukung dengan perluasan pemahaman melalui pengamatan langsung. Tetapi juga ditemukan problematic yang krusial dan dudah klasik diantara waktu, uang dan kemauan siswa (motivasi) yang sangat rendah serta inovasi yang tidak ada (subyanto: 2009: 19)
Dalam pelaksanaan pengajaran ini dapat dilakukan agar siswa mengikuti modul berikutnya dan untuk mengetahui berapa jauh pengetahuan siswa. Evaluasi ini diberikan dalam bentuk item-item tes sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh guru. Tujuan pembelajaran biologi ialah agar peserta didik dapat berkomunikasi dengan mempergunakan nagka-angka dan bahasa dalam biologi serta mengembang sikap siswa dalam suatu makna/arti. Penegrtian sistem bahasa, dan memahami symbol-simbol yang sering dijumpai dalam buku-buku pelajaran mempunyai arti khusus.
Sikap seorang guru dalam mempersiapkan materi pelajaran yang akan diajarkan harus berpedoman pada petunjuk yang sesuai dengan urutannya. Perlu perhatian guru dalam proses mengajar di kelas karena siswa dengan metode yang cocok pada suatu materi ajar yang telah dipakai, dalam proses belajar mengajar pada suatu jenjang pendididkan yakni berkenaan dengan pencpaian mutu belajar. Bahan pelajaran yang disajikan guru dapat diperhatikan untuk siswa agar lebih mudah dalam mengalokasi pertanyaan.
Dalam rangka mencapai tujuan pengajaran maka seorang guru hendak mampu memilih media/metode pengajaran yang disesuaikan dengan kemampuan siswanya. Selain itu dalam memilih media pengajaran perlu dipertimbangkan media yang mudah didapat, murah, dan efisien. Bedasarkan hasil observasi di MTs Negeri Lam Ujong Kabupaten Aceh Besar yang dilakukan penulis pada bulan Juni 2010, pada umumnya guru-guru MTs Negeri disini menggunakan metode diskusi/ceramah dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
Bedasarkan latatar belakang di atas maka penulis mengambil judul “ Kendala-kendala yang di alami siswa dalam mempelajari mata pelajaran biologi di MTs Negeri Lam Ujong Aceh Besar”.

2.      Rumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Problema apa saja yang dialami siswa dalam mempelajari mata pelajaran biologi di MTs Negeri Lam Ujong Kabupaten Aceh Besar.

3.      Tujuan Penelitian
Bedasarkan permasalahan di atas penulis menetapkan tujuan penelitian antara lain. Untuk mengetahui problema apa dalam mempelajari mata pelajaran biologi di MTs Negeri Lam Ujong Kabupaten Aceh Besar.
4.      Manfaat Penelitian
Adapun tujuan yang penulis antara lain
Untuk mengetahui problema apa dalam mempelajari mata pelajaran biologi di SMP dan solusi bagi guru serta pengambil kebijakan dalam pendidikan di MTs Negeri Lam Ujong Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh atau sekitarnya.

5.      Hipotesis
Hipotesis adalah suatu penelitian yang dilakukan atau sebagai landasan berpijak yang merupakan tumpuan aktivitas terhadap suatu masalah yang kan diteliti. Adapun yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah: terdapat kendala bagi siswa dalam mempelajari meteri ajar di MTs Negeri Lam Ujong Kabupaten Aceh Besar sekitarnya.
6.      Organisasi Laporan Penelitian
Laporan penelitian ini terdiri dari 5 bab yaitu:
Bab I Pendahuluan: Latar belakan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis, manfaat penelitian, dan oraganisasi laporan penelitian.
Bab II Tinjauan kepustakaan, Pengertian belajar, Metode dalam belajar, factor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, media dalam belajar, kesulitan dalam belajar.
Bab III Metode Pemelitian, Metode penelitian, waktu dan tempat penelitian, metode pengumpulan data dan metode analisis data.
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan meliputi tinjauan hipotesis
BAB V Kesimpulan dan Saran.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.      Pengertian Belajar
Bermacam pendapat para ahli menyebutkan belajar adalah suatu pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku berkat pengalaman latihan dan belajar itu terarah pada pencapaian tujuan. Sebagaimana yang dekemukan oleh Nasution (1995:35) bahwa. Kegiatan belajar membawa perubahan pada ondividu yang belajar, perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan melainkan juga dalam bentuk kecakapan , kebiasaan, sikap, ketrampilan wawasan dan pola fikir mengenai segala aspek organism atau secara pribadi bagi peserta didik.
Jadi dapat dikatakan belajar merupakan suatu proses aktif melalui suatu latihan dan berakibat pada perubahan tingkah laku yang menuju kepada kedewasaan dan suatu kemajuan. Prestasi belajar merupakan kemampuan belajar. Banyak ahli yang bengga bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh lewat menuntut ilmu. Ada lagi yang lebih khususnya mengartikan prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh atau yang dicapai, (dilakukan, dikerjakan oleh seseorang) lewat proses belajar. Sebab semakin tinggi kepedulian terhadap bidang tertentu semakin tinggi prestasi belajar yang dicapai nya pada bidang tersebut.
Jika dilihat secara detil sebaiknya semain kurang kepudulian terhadap bidang tertentu semakin rendah pula prestasu belajar yang diperoleh, bahkan sama sekali tidak diperolehnya. Prestasi belajar menunjukkan tingkat yang dimiliki oleh siswa yang diperoleh dalam belajar.mengajar. seperti yang dikemukan oleh para ahli pendidikan bahwa: “Prestasi sebagai suatu bukti keberhasilan usaha yang dicapai sedangkan prestasi belajar merupakan suatu akhir dari belajar”
Berarti dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar yang diperoleh anak sangat tergantung pada cara belajar yang digunakan. Pada tingkat berpikir inilah dapat diharapkan bahwa dengan mempergunakan cara belajar yang tepat akan mempertinggi prestasi belajar dan sebaliknya bila anak belajar serampangan maka hasil yang akan dicapai tidak memuaskan.
Dengan metode ceramah siswa dapat menguasai bahan ajar secara berjenjang/berkelompok namun mereka dapat secara bersama-sama mengikuti proses pembelajaran, evaluasi atau penugasan lain. Setiap sistem pembelajaran dalam pendidikan memiliki kebaikan dan kelemahan tersendiri. Tidak suatupun suatu sistem pembelajaran mempunyai batas-batas kebaikan dan kelemahan, bukan saja terhadap tujuantertentu tetapi juga terhadap situasi tertentu. Malah sistem yang sama dapat memberikan efisiensi ditangan guru yang seorang tetapi sama sekali gagal ditangan guru yang lain maka dapat ditingkatkan dengan menggunakan metode ini.
 Jadi dari kutipan di atas dapat diambil pengertian bahwa sistem pembelajaran tidak selamnya cocok digunakan dalam mengajar semua pokok bahasan. Tetapi yang berperan menentukan cocok suatu sistem pembelajaran adalah pokok bahasan yang akan disampaikan.


2.      Metode-Metode Pembelajaran.
Bermacam metode ceramah merupakan sitem pembelajaran yang menuntut partisipasi aktif siswa dalam belajar secara individu atau kelompok. Dalam hal ini dapat lihat dari cirri-ciri pembelajaran dengan metode ini sebagai berikut:
a.       Merupakan terhadap perbedaan-perbedaan individu. Pada pembelajaran klasikal, perbedaan individu kurang diperhatikan dan cendrung menyamaratakan, perbedaan intilektual, latar belakang akademi dan gaya belajar menjadi perhatian.
b.      Pembelajaran secara eksplisit, tujuan dalam pembelajaran yang spesifik berguna untuk menentukan medium dan kegiatan belajar.
c.       Sedangkan bagi guru tujuan pembelaharan untuk lebih memahami isi pelajaran itu. Rumusan tujuan pembelajaran itu juga berguna untuk menyusun item-item dalam rangka evaluasi hasil belajar.
d.      Adanya evaluasi terhadap hasil belajar. Dalam pembelajaran modul, evaluasi tetap dilaksanakan untuk suatu metode sebelum melangkah kemateri yang berikutnya.
Dalam pelaksanaan pengajaran ini dapat dilakukan agar siswa mengikuti modul berikutnya dan mengetahui berapa jauh pengetahuan siswa. Evaluasi ini diberikan dalam bentuk item-item tes sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh guru. Tujuan pembelajaran biologi ialah agar peserta didik dapat berkomunikasi dengan menggunakan angka-angka dan bahasa dalam biologi serta mengembang kan sikap sisw adalam suatu maksna/arti. Pengertian sistem bahasa, dan memahami symbol-simbol ang sering dijumpai dalam buku-buku pelajaran mempunyai arti khusus.
Sikap seorang guru dalam mempersiapkan materi pelajaran yang akan diajarkan harus berpedoman pada petunjuk yang sesuai dengan urutannya, perlu perhatian guru dalam proses mengajar di kelas karena siswa dengan metode yang cocok pada suatu materi ajar yang telah dipakai, dalam proses belajar mengajar pada semua jenjang pendidikan yakni berkenaan dengan pencapaian mutu belajar. Bahan pelajar yang disajikan guru dapat diperhatikan untuk siswa agar lebih mudah dalam mengolokasi pertanyaan.
Persoalan ini dapat dilihat dari tujuan pembelajaran dengan metode ceramah seperti dikemukakan oleh Sriyono (2006:81) adalah:
1.      Meransang kreativitas siswa dalam menguasai bidang studi yang diajarkan guru punya terobosan dan visi dalam belajar suatu masalah
2.      Siswa dapat mengikuti pola piker sesame teman dan mampu beradaptasi dengan anggota mesyarakat lainnya.
3.      Cerdas dalam mengeluarkan pendapat dan mempunyai sikap menerima pendapt orang lain walaupun bertentangan dengan nalurinya.
4.      Hasil yang diperoleh berupa hasil yang dipelajari dapat dipertanggung jawabkan secara bersama-sama dan ini merupakan terbaik dalam proses belajar dimana rasa tanggung jawab bukan satu dua orang siswa.
Dalam pelaksanaan pengajaran ini dapat dilakukan agar siswa mengikuti modul berikutnya dan untuk mengetahui berapa jauh pengetahuan siswa. Evaluasi ini dibrikan dalam bentuk item-item tes sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh guru dan dapat diikuti oleh semua siswa.
Kemudian menurut Suriasumantri (2007:37) tentang tujuan dari pembelajaran dan evaluasi yaitu tujuan pembelajaran biologi ialah agar peserta didik dapat berkomunikasi dengan mempergunakan logika/interprestasi dan bahasa dalam biologi serta mengembangkan sikap siswa dalam belajar. Pengertian sistem bahsa dan memahami simbol-simbol yang sering kali dalam buku-buku pelajaran mempunyai arti khusus.
Tujuan yang dapat dicapai apabila memamng didudun secara baik dan sistematik sejak dari awal kegiatan belajar. Dalam sistem pendidikan di Sekolah tradisional peranan guru sangat menentukan mutu hasi out put lulusan. Jika muri diajarkan oleh guru yang kurang persiapan atau kurang cerdas dengan  kata lain tidak kreatif, tidak punya metode/media maka para siswa / murid nya akan pasti mendapat hasil pendidikan yang kurang baik pula. Jadi jelaslah bahwa mutu dan kreativitas itu sendiri sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar mengajar. Guru harus banyak member iformasi baru agar tidak menimbulkan rasa bosan pada peserta didik, informasi yang didapati oleh siswa tidak hanya satu arah saja tetapi harus dibuka kesempatan bertanya bagi siswa sehingga terasa lebih kominikatif  dan menjadi pebelajar yang baik dan aktif.
Pesan guru sebagai pelaksana pendididkan guna meningkatkan prestasi belajar siswa dalam dengan metode ceramah, menurut Karno (1993:121) mengemukakan bahwa: “ Siswa tidak menguasai bidang studi yang diajarkan ahanya mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan”. Tidak mempunyai ketrampilan memakai alat peraga atau terampil dalam klasifikasi siswa cepat untuk mengerti. 

3.      Factor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar.
Ditinjau dari prestasi belajar merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan siswa. Kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi belajar meupakan hasil dari belajar. Menurut Prawoto (1999:78) bahwa: “prestasi artinya hasil yang dicapai secara maksimal dalam proses belajar siswa yang dimulai dari awal pembelajaran sampai akhir kegiatan evaluasi”.
Secara garis besar ada dua factor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran biologi dan IPA yaitu:
A.    Factor Internal
(i)     Intelegensi.
Factor kecerdasan (intelegensi) mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap prestasi belajar siswa, yang merupakan kecakan untuk menghadapi, melihat dan menyesuaikan dan kesanggupan untuk mempelajari bahan-bahan yang abstrak, akademis, verbal, serta mampu menyesuaikan diri dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif.
Mengenai hal ini Koestur Partowisastro (2006:22) menjelaskan bahwa: Awal dari perkembangan intelegensi terjadi dalam lingkungan rumah tangga, dan setelah anakbersekolahpun pengaruh lingkungan keluarga masih sangat besar, bahkan kadang-kadang apa yang didapati anak di rumah lebih besar pengaruhnya dari pada yang diperoleh di sekolah. Penbgaruh lingkungan yang kurang menguntungkan amat besar pengaruhnya terhadap perkembangan intelegensi anak.
Selanjutnya Rochman Barawijady (2009:3) menjelaskan tentang factor intelegensi yaitu:
Salah satu factor yang mempengaruhi perkembangan anak kelihatannya factor intelegensi merupakan factor yang terpenting. Intelegensi yang tinggi mempercepat perkembangan, sedangkan intelegensi yang rendah mengakibatkan keterlambatan atau keterbelakangan perkembangan.

Bedasarkan dua kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa intelegensi anak menentukan mampu atau tidaknya anak berprestasi secara baik di sekolah. Disamping itu, intelegensi sangat dipengaruhi oleh keadaan kehidupan dalam keluarga. Oleh karena itu kehidupan sebuah keluarga yang dipengaruhi atau diwarnai dengan nilai-nilai pendidikan akan memberikan dampak yang positif bagi peningkatan kemampuan intelegensi dan prestasi anak.
(ii)   Bakat.
Bakat atau aptitude adalah kondisi di dalam diri seseorang yang memungkinkan dengan suatu latihan mencapai kecekapan. Pengetahuan dan ketrampilan juga merupakan salah satu aspek kualitas yang dimilikinya orang. Unsur-unsur bakat ini berbeda dibawa oleh individu sejak lahir. Ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Prawoto (2008:45):
Bakat adalah dasar kepandaian, sifat bawaan dari lahir, unsur-unsur bakat ini berbeda tiap-tiap individu, karena latar belakang keluarga dan lingkungan social belajar siswa. Bakat juga merupakan salah satu factor yang menentukan keberhasilan belajar siswa. Bakat dipengaruhi oleh factor genetika. Dengan demikian bakat telah ada dalam diri seseorang sejak dia lahir, bakat merupakan kemampuan mental.
Secara statistik kemampuan mental itu akan menurun dalam suatu garis keluarga maka bakat adalah kemampuan individu untuk melakukan suatu tugas yang sedikit sekali tergantung kepada latihan mengenai hal tersebut. Bedasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa bakat merupakan anugrah Tuhan kepada seseorang yang berbeda antara suatu dengan yang lainnya. Pada umumnya bakat itu perlu dipupuk dan dikembangkan oleh setiap individu yang ada agar lebih baik dan terarah dalam penggunaanya. 
(iii) Motivasi
Motivasi merupakan dorongan dari dalam diri individu untuk melakukan suatu tindakan dalam mencapai suatu tujuan. Sebagai mana dikemukakan oleh Gunarsa (1989: 90) sebagai berikut: “motivasi dapat diartikan sebagai dorongan yang datang dari dalam diri maupun luar diri seseorang yang menyebabkan ia berbuat dan perbuatan tersebut diarahkan pada tujuan yang ingin dicapai.
Lemah atau kuatnya mottivasi seseorang sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan suatu usaha yang dilakukan, termasuk belajar. Keberhasilan dalam motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang. Apabila motivasi belajar itu kuat pada diri seseorang, maka semangat belajar tinggi.sebaliknya apabila motivasi itu lemah pada diri seseorang maka ssemagat belajarnnya pun rendah.
Apa yang menyebabkan motivasi belajar seseorang itu kuat atau lemah ? hal ini sangat dipengaruhi oleh beberapa komponen sebagaimana yang dikemukakan oleh Rocman B (1989: 57) sebagai berikut:
-          Adanya sikap ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia luas ini.
-          Adanya sikap yang kreatif pada manusia dan kenginan untuk selalu maju.
-          Adanya kenginan untuk mendapat simpati dari orang tua, guru dan teman-teman.
-          Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru.
-          Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pengajaran.
Dari kutipan di atas jelas bahwa motivasi belajar itu timbul karena adanya kenginan-keinginan dari seseorang atau individu yang belajar. Tinggi atau rendahnya kader dari kenginan-keinginan itu mencerminkan tinggi atau rendahnya motivasi yang timbul pada dirinya untuk belajar. Akibat adanya motivasi dalam belajar mengakibatkan perbedaan-perbedaan prestasi belajarnya dicapai oleh seseorang atau individu. Dengan demikian motivasi adalah suatu factor yang mempengaruhi belajar siswa.
(iv) Minat
Factor minat juga menentukan keberhasilan dalam proses  belajar mengajar karena minat seseorang terhadap apa yang dipelajri memungkinkan ia dapat berkonsentrasi dalam belajar. Gunarsa (1989: 96) mengemukakan bahwa: Minat adalah gejala tertarik pada sesuatu yang selanjutnya minat seseorang akan mencerminkan tujuannya. Minat selain memungkinkan pemusatan pemikiran , juga akan menimbulkan kegimbaraan dalam usaha belajar. Kegembiraan hati akan memperbesar daya kemampuan belajar seseorang dan juga membantunya untuk tidak mudah melupakan apa yang dipelajarinya. Belajar dengan perasaan yang tidak gembira akan membuat pelajaran itu terasa berat.
Pada umumnya seseorang tidak berminat mempelajari sesuatu pengetahuan karena tidak mengetahui faedahnya. Suatu mata pelajaran dapat dipelajari dengan baik apabila orang tersebut dapat memusatkan perhatiaanya terhadap pelajaran itu.
(v)   Kesehatan
Kesehatan merupakan modul dasar bagi seseorang anak untuk dapat belajar dengan baik. Seorang anak yang kesehatannya terganggu tentu saja tidak dapat memusatkan perhatinnya secara baik terhadap pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Yang akhirnya dapat mempengaruhi prestasi belajar.
Diantara berbagai unsur kesehatan yang dapat mempengaruhi prestasi belajar adalah factor penglihatan dan pendengaran, sebagaimana yang dikemukakan oleh Koestoer Prawoto (1999:127) sebagai berikut: adanya gangguan penglihatan/pendengaran tidak diketahui oleh gurunya, disamping itu anak yang mengalaminya pun sering kali tidak menyampaikannya. Padahal gangguan indra ini (lebih-lebih gangguan penglihatan) dapat menimbulkan gejala-gejala terus menerus seperti sakit kepala, kurang konstrasi dan lain-lain, semua itu merugikan proses belajar.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gangguan kesehatan dapat mempengaruhi kelancaran studi seorang siswa tidak dapat berkonstrasi dengan baik terhadap pelajaran yang dipelajarinya. Lebih-lebih bila gangguan itu terjadi pada mata dan telinga yang merupakan alat penghubung utama seorang manusia dengan lingkugannya. Gangguan pada mata dan telinga dapat menyebabkan kurang lancernya penerimaan informasi dari luar, yang akhirnya akan member pengaruh yang buruk terhadap prestasi belajarnya. Begitu juga bila terjadi pada gangguan fisik akan menimbulkan ejekan dari siswa yang lainnya.
B.     Faktor Eksternal
Pada factor eksternal adalah bentuk/hal-hal atau situsi di luar diri seseorang yang dapat mempengaruhi proses dan prestasi belajar seseorang atau siswa. Factor-faktor ini kadang-kadang tidak secara langsung mempengaruhi akan tetapi terlebih dahulu terjadi reaksi terhadap factor-faktor dalam diri seorang siswa. Setelah itu baru terasa pengaruhnya terhadap proses dan prestasi belajar yang ditekuninya. Factor ekternal ini adalah factor yang berasal dari luar diri siswa antara lain dapat berasal orang tua dan masyarakat.
(i)     Orang Tua
Orang tua merupakan orang yang pertama bagi seorang siswa dalam memperoleh pendidikan sebelum ia memperolehnya dari orang lain. Dengan demikian orang tua sangat diharapkan perannya dalam membimbing dan mengarahkan anak kedalam dunia pendidikan. Rochman B (1989:125 ) mengatakan bahwa:
“sudah merupakan hokum yang mutlak bahwa orang tua mempunyai kewajiban anak-anaknya. Hokum ini tidak dapat dibantah, sebab lahirnya anak karena perbuatan orang tuanya. Sepanjang sejarah manusia belum pernah ada anak yang minta dilahirkan. Karena perbuatan itu dilakukan dengan kesadaran, maka sebagai akibat logis perbuatan itu harus dipertanggung jawabkan”.
Dalam kenyataan sehari-hari sering ditemui orang tua yang sangat bertanggung jawab terhadap pendidikan dan masa depan anak-anaknya. Namun demikian orang tua tidak boleh member pengaruh yang buruk bagi anak-anak atau target yang tidak mungkin direalisasi oleh mereka.
(ii)   Sekolah
Sekolah sebagai lingkungan belajar untuk mendapatkan pendidikan secara formal yang merupakan kelanjutan dari pada pendidikan dalam lingkungan keluarga mereka. Proses pendidikan di lingkungan sekolah sudah disusun secara formal, dan didata dengan berbagai bentuk pendidikan pengajaran, kurikulum yang relevan dan tujuan pendidikan itu sendiri. Adapun di lingkungan sekolah, hal-hal yang dapat mempengaruhi proses belajar anak atau siswa antara lain adalah metode mengajar, kurikulum, hbungan guru dengan siswa, fasilitas yang  tersedia dan sebagainya.
Dalam proses interaksi belajar mengajar di sekolah metode pendekatan mengajar yang digunakan guru memang peran penting. Sebab menanamkan kosep suatu ilmu diperlukan metode mengajar yang sesuai, terutama untuk memotivasikan anak dalam mengembangkan konsep-j\konsep yang telah disajikan apabila guru menyampaikan materi pelajaran dengan metode yang membosankan siswa, maka hanya akan menjadikan siswa malas belajar dengan guru tersebut. Hal ini akan berakibat terhadapa prestasi yang dicapai siswa, sejalan dengan dikemukakan oleh Slameto (1991: 67)
“metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Metode mengajar yang kurang baik itu dapat terjadi misalnya karena guru kurang persiapan dan guru kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut menerangkan tidak jelas”.

(iii)  Masyarakat
Anak hidup dan berkembang dalam masyarakat. Maka segala yang dilihat dan dirasakan dalam pergaulan di masyarakat akan memberikan kesan yang mendalam pada diri anak dan mempengaruhi seluruh segi kehidupannya, termasuk di dalamnya kelangsungan pendidikan anak itu sendiri.
Apabila seorang anak hidup dalam masyarakat yang berpendidikan atau setidaknya mempunyai pandangan yang positif terhadap pendidikan, maka anak tersebut akan terarah ke dunia pendidikan dan akan berusaha untuk melanjutkan pendidikan. Akan tetapi sebaliknya apabila seorang anak hidup dalam lingkungan masyarakat yang tidak menghargai pendidikan maka besar kemungkinan anak akan gagal dalam pendidikan.
Salah satu pengaruh yang datang dari masyarakat adalah yang berasal dari mass media, sebagaimana yang dikemukakan oleh Slameto bahwa: “yang bertanggung jawab atas pendidikan anak tidak hanya guru dan orang tua, melainkan seluruh masyarakat”. Bagi took biku yang diam-diam menjual bacaan cabul, bioskop yang membolehkan anak-anak dibawah umur menonton film yang tidak sesuai dengan usianya, pemerintah kota yang tidak menyediakan lapangan olah raga, tetapi menggunakannya untuk gedung-gedung mereka semua tidak lari dari tanggung jawab itu.
Banyak bacaan, novel, majalah, Koran yang dapat dipertanggung jawabkan secara pendidikan. Kadang-kadang anak asyik membaca buku-buku yang bukan buku pelajaran, sehingga lupa akan tugas belajar, maka bacaan anak perlu diawasi dan diseleksi. Dari uraian di atas, bahwa masyarakat dapat menentukan apakah seorang anak akan berhasil atau gagal dalam pendidikannya. Apabila masyarakat bersikap masa bodoh terhadap pendidikan anak, maka anak mengalami kemunduran dan bahkan gagal dalam pendidikannya tetunya dalam jangkauan yang lebih luas merugikan masyarakat itu sendiri karena tidak ada tenaga terdidik dilingkungannya.

4.      Media Dalam Belajar
Kegiatan belajar mengajar banyak melibatkan perangkat media guna mempermudah guru dan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Ada kecendrungan yang memperhatikan bahwa menggunakan media atau alat peraga dalam kegiatan belajar kurang efisien bagi peserta didik.
Maksud dan tujuan pengggunaan media/alat peraga adlah untuk member variasi dalam cara mengajar untuk mencapai tujuan pengajaran. Dengan pertolongan media pengalaman belajar siswa menjadi lebih nyata sebab tidak akan mudah lupa terhadap hal-hal yang telah dipelajari. Setiap konsep yang dalam biologi baru dipahami anak perlu segera diberikan penguatan supaya mengendap, melekat dan tahan lama tertanam sehingga menjadi miliknya dalam pola piker dan pola tindaknya sehingga diperlukan belajar mulai berbuat dan mengerti tidak hanya hafal atau mengigatkan fakta yang tentun ya akan mudah dilupakan dan sulit untuk dimiliki.
Penggunaan media gambar dalam pelajaran biologi sangat dinajurkan karena dapat langsung dilihat oleh siswa apa yang dijelaskan guru. Media gambar lebihmudah untuk didapat dan harganya tidak terlalu mahal tergantung bentuk dan ukuran yang dibutuhkan guru. Dengan melibatkan panca indranya siswa lebih mudah memahami media gambar seperti dalam sistem pernafasan, artinya dapatdilihat wujud yang sebenarnya. Dengan menggunakan gambar membuka ingatansiswa apa yang telah dibaca atau didengar melalui ucapan guru.
Banak media gambar/ harta dapat membantu cara-cara guru mengajar dan memberikan kesempatan kepada anak/siswa untuk dapat melihar. Kegiatan model ini lebih memberikan keleluasaan/kesempatan untuk bisa memahami, dan mengambil kesimpulan dan belajar. Media gambar dapat menong anak/siswa untuk tidak menhafal konsep dari materi bahan ajar tapi lebih para analisis untuk mengambil kesimpulan dari hasil pengamatan. Proses pencandraan dan visualisasi selalu berbeda antara satu siswa dengan siswa lainnya terrutama untuk interprestasi apa saja yang mereka lihat atau yang mereka alami. Hal ini dibantu oleh karakter yang pinter, kurang pinter bahkan ada yang malas sekalipun.

5.      Kesulitan Dalam Belajar
Bermacam kesulitan yang dialami siswa dalam proses pembelajaran ini langsung berperan aktif tidak boleh diwakilkan atau minta bantuan teman. Selanjutnya interpretasi yang dimiliki siswa pasti berbeda terhadap bahan ajar yang mereka pelajari. Siswa lebih lama menyimpan ingatan yang mereka lihat dari pada yang mereka dengar karena dapat lansung mengenalinya. Dalam menggunakan media guru dapat juga memberikan sugesti untuk siswa karena tampil dengan warna yang berbeda-beda misalnya merah, hijau, atau kontras, lembut dan lain-lain. Kesulitan lain ada di sekolah pada saat materi pelajaran berlangsung karena guru kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya. Setiap individu mempunyai potensi yang besar untuk memahami dirnya sendiri dari mampu memecah maslah dihadapinya sendiri tampa intervensi langsung oleh pihak lain, dan dia mampu tumbuh kearak aktualitas dirinya.
Atas dasar pemikiran seperti yang telah dikutip di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menilai secara positif pengalaman yang ia amati. Untuk meningkatkan aktualisasi diri dan menilai negative pengalaman yang tampak bertentangan dengan kecendrungan aktualisasi. Maka dengan demikian siswa memahami dirinya dari mampu mengatasi masalah kesulitan belajar yang dialami sekolah.
Menurut Oemar Hamalik (1985: 119) menyatakan tentang masalah mengatasi kesulitan belajar secara mandiri adalah sebagai berikut: “sesungguhnya perbaikan itu tidak  teletak ditangan orang lain melainkan ditangan kita sendiri, berkat usaha dan aktivitas kita sendirilah keberhasilan itu dapat dicapai karena itu telitilah dengan seksama diri sendiri, mingkin ada unsure yang perlu disempurnakan dan diarahkan lebih tepat pada sasaran pembuatan belajar. Perlu adanya bimbingan orang tua di rumah dalam proses belajar siswa hingga orang tua dapat mengawasi kesulitan belajar yang dirasa oleh siswa. Manusia dalam hidup ini sering mengalami persoalan silih berganti. Persoalan ini dapat diatasi tapi soal yang itu tidak dapat diatasi dan seterunya. Hal ini sering pula dialami siswa yang sedang duduk dibangku sekolah lepas dari kesulitan yang satu akan muncul kesulitan lain. Bedasarkan atas kenyataan bahwa keunikan siswa tidak sama dengan keunikan siswa lain. Misalnya ada siswa mampu mengatasi kesulitan belajar tanpa bantuan orang lain. Bagi siswa seperti inilah perludapat bimbingan dan penyuluhan bantuan dari orang lain. Semoga kesulitan belajar yang dialami dapat diatasi atau dipecahkan secara bersama dengan guru/teman atau dengan cara kerja kelompok.


BAB III
METODE PENELITIAN

1.      Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Negeri Lam Ujong Kabupaten Aceh Besar, dimulai dari tanggal 27 Juli 2011 sampai dengan tanggal 24 Agustus 2011
2.      Populasi dan Sampel
Penelitian ini dilaksanakan di kelas II MTs Negeri Lam Ujong Kabupaten Aceh Besar. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 120 orang siswa yang terdiri atas 3 kelas yaitu II/A, II/B dan II/C. Dalam pengambilan sampel ini, penulis berpijak pada pendapat Arikunto, (2003:112) mengatakan bahwa: Apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika subjeknya lebih besar dari 100 dapat di ambil antara 10-15% dan 20-25% atau lebih “ maka yang diacak kelasnya saja yaitu diambil salah satu kelas saja.
3.      Sampel Penelitian
Sampel yang diambil adalah satu kelas saja yaitu II/B dengan jumlah siswa 37 orang, kepada mereka diberikan angket yang telah disiapkan penelitian berupa soal-soal yang berkenaan dengan masalah dialami oleh siswa dalam mengikuti mata pelajaran biologi.
4.      Metode Pengumpulan Data
Pengambilan data dengan mereka diberikan angket yang telah disiapkan berupa soal-soal yang berkenaan dengan problematic dalam belajar mata pelajaran biologi.
5.      Metode Pengolahan Data
Pengolahan data digunakan persentase terhadap ietem angket yang telah disiapkan peneliti berupa soal-soal yang berkenaan dengan problematic dalam belajar mata pelajaran biologi. Dalam penilitian ini penulis menggunakan teknik pengolahan data dengan uji statistik sederhana dengan rumus persentase dari Anas Sudi Jono (2006:106) sebagai berikut
Dimana :
            P = persentase
            F = frekwensi
            N = jumlah sampel
      100% = bilangan tetap
            Langkah penulis mengukan perhitungan masing-masing alternative jawaban dalam angket kemudian ditentukan persentase bedasarkan hasil yang dijawab oleh siswa di MTs Negeri Lam Ujong Kabupaten Aceh Besar.








DAFTAR PUSTAKA
Abu ahmadi (1992).Strategi Penelitian Pendidikan.Bandung Angkasa.
Arikunto,S (2003).Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta Bina Aksara.
Damhoeri D. (1999). Teori Belajar Mengajar Perkembangan Anak .Jakarta. Artaqi.
Depdikbud. (1984). Program Penembangan Kurikulum SLTP. jakarta Ditjen Dikbud Dikdasmen kantor Pusat Senayan.
Gunarsa,Singgih D. (1999). Pedoman Pengajaran Ilmu Alam. Semarang Toha Putra Hadi S.(1998)Statistik 2.Erlangga,Jakarta.
Karso, (1993). Metode Belajar Mengajar dan Tekniknya. Jakarta P2LPTK.
Kardayanto (2002). Kajian dan Terapan Biologi.Bogor. Yudistira.
Kartono,Kartini (1985). Bimbingan belajar di SMA dan Perguruan Tinggi, Erlangga,Jakarta
Koetoer,P (1986). Belajar Mengajar IPA Jakarta DIKDASMEN
Nasution, Thamrin (1982). Membangkitkan Belajar Minat Anak. cetakan kedua. Madju Medan, Medan.
Nasution,S. (1982). Metode Belajar Untuk Guru, Bandung.Tarsito
Prawoto (1999).Media Intructional Biologi Jakarta DIKBUD
Partowisastro (1986).Teknik Praktikum Biologi.UGM, Press LBBT,Yogyakarta.
Poerwadarminta (1985). Kamus Umum Bahasa Indonesia.Balai Pustaka,Jakarta.
Rochman B (1989). Pedoman Guru Buku dan Alam Sekitar Jakarta.Bina Aksara
Rachayu,Siti (1985). Belajar Individual Biologi.UGM,Rake Press,Yogyakarta.
Roestiyah, (1973). Teori –teori Belajar.Nasco,Jakarta.
Ruseffendi,E.T.(1982). Dasar-dasar MIPA Modern untuk Guru. Edisi Ketiga, Tarsito, Bandung
Sardiman,A.M. (1987). Interaksi dan Motivasi Belajar  Mengajar. Rajawali. Press, Jakarta.
Slameto (1998). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya.Bina Aksara, Jakarta.




Title : Pengertian Belajar
Description : BAB I PENDAHULUAN 1.       Latar Belakang masalah Dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang menelaah berbagai bidan...

0 Response to "Pengertian Belajar"

Poskan Komentar

Total Tayangan Laman