TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG SEMOGA BERMANFAAT :D

Filsafat Islam dan Metode Cara Berfikir



B. PEMBAHASAN
1.  Pengertian Filsafat
Menurut bahasa, kata filsafat berasal dari bahasa yunani philosophia, dari kata philos atau philein atau philia yang berarti cinta, dan dari kata Sophia yang berarti kebijaksanaan atau kearifan atau pengetahuan. Sehingga orang yang mencintai kebijaksanaan, kearifan atau pengetahuan disebut philosophos atau Filsuf.[1]
Kemudian orang arab memindahkan kata yunani philosophia kedalam bahasa arab menjadi falsafah. Hal ini sesuai dengan tabiat susunan kata-kata arab dengan pola fa'lala fa’lalah dan fi'lala. Karen itu kata benda dari kata kerja falsafa sebarasnya falsafah dan filsafat.[2]
Dalam kamus besar Indonesia, filsafat: pengetahuan  dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya, teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika dan epistemology.[3]

Menurut Cicero, seorang penulis dan  pemikir romawi orang yang pertama kali memakai istilah filsafat adalah phylhagoras (497 SM) sebagai reaksi terhadap orang-orang cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya ahli hidup bijaksana orang arif atau ahli pengetahuan.[4]
Manusia menurutnya, tidak akan mampu mencapai pengetahuan secara keseluruhan walaupun akan menghabiskan semua umumya. Oleh sebab itu, yang pantas bagi manusia ialah pencinta pengetahuan (filosof) sehingga terkenal ungkapannya " saya tidaklah ahli pengetahuan, karena ahli pengetahuan isu khusus bagi Tuhan Alfalsafah Fi Nasatiha Al-Tarikhi.
Apabila melihat ayat-ayat A-quran, maka ada beberapa arti yang di kandung dalam kata-kata hikmah itu antara lain adalah:
-            Untuk memperhatikan keadaan dengan seksama untuk memahami rahasia  syariat dan maksudnya.
-       Kenabian
Dengan demikian hikmah yang diidentikkan dengan filsafat adalah: ilmu yang membahas tentang hakikat sesuatu, baik teoritis (etika, estetika, metafisika) atau yang bersifat praktis yakni pengetahuan yang harus di wujudkan dengan amal baik.[5]
Pembentukan kata filsafat menjadi kata Indonesia diambil dari kata barat yaitu fit dan safat dari kata arab sehingga tedadilah gabungan antara keduanya dan menimbulkan kata filsafat.[6]
Kata Sophia dipindahkan oleh orang arab ke dalam bahasa mereka dengan kata hikmah. Lihat surat Al-baqarah ayat 2:269 " Allah menganugerahkan Al- hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi Al-hikmah itu, is benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran (Q.S Al-Baqarah 2:269).
Jadi secara sederhana dapat di katakan filsafat adalah: hasil kerja berfikir yang melibatkan akal, intuisi, alat indera dan kekuatan fisik dalam mencari hakikat segala sesuatu (Ketuhanan, manusia, alam) secara sistematis radikal dan universal.

2.      Pengertian Filsafat Islam
         Tentang penamaan disiplin Ilmu ini ada 2 (dua) versi pendapat yaitu: filsafat Islam dan filsafat arab. Diantara mereka yang berpihak pada istilah filsafat arab adalah:        
     - Hana fakhuri dan Khalil Jari dalam bukunya tarikh A]-falsafah al- arabiya           Emile Brehier dalam bukunya histoire dela philosophic,
- Maurice de Wulf
- Majid Fakhry dan
- Luthfi As Sayid
Dan yang berpihak pada penamaan filsafat Islam,
-      Max Herten, Sadana Jerman dalam Encyclopedia Islam
-        J T De Boer dalam bukunya The History of Philosophy in Islam
-        L. Gunthier
-        Carra de Vaux
Berbeda dengan As-sahrawardi AR-Rani beliau lebih suka memilih pendapat yang menamakan filsafat di dunia Islam. Mereka punya argumen/alasan masing-masing. Untnk memperkuat pendapatnya yang memberi nama filsafat arab. Alasannya:
Pertama : Bahasa yang di pergunakan adalah bahasa arab. Kedua : banyak dari rumpun bangsa arab seperti agama majusi  nasrani, yahudi Shabiah. Sebagai pemikir dan penterjemah yang bukan agama Islam. Dan ketiga: sejarah arab lebih tua dari sejarah Islam. Islam lahir dari kalangan arab.
Adapun yang memberi istilah filsafat Islam, pada pokoknya mengemukakan tiga alasan yaitu: Pertama : Al-kindi, Al-Farabi, Ibnu Rusdy memberi nama filsafat Islam. Kedua: Islam bukan saja agama tetapi juga merupakan kebudayaan dan peradaban, dan Ketiga : filsafat Islam tidak mungkin terbina tanpa dakwah islamiyah, dan persoalan yang di babas juga persoalan agama Islam, maka tepat menamakannya filsafat Islam (Dalam buku Tamhidli Tarikh Al-Falsafah Al-Islamiyah, oleh Mustafa Abd Raziq- Kairo: Lajnah Ta'lifWa Al-Tarjamah Wa Al-Nasyir, 1959 hal 16-17, lihat juga Al Ahwahi, hal 14-17.
Kalau di analisis tentang penamaan tersebut, dapat di katakan bahwa memberi predikat arab tidaklah tepat, karna kebanyakan filsuf yang membangun ilmu ini bukanlah orang arab, melainkan orang Persia, Turki, Afghanistan, spanyol dll, walaupun karya mereka kebanyakan di tulis dalam bahasa arab, tetapi yang pasti bahwa orang arab belum menemukan ilmu ini sebelum ekspansi Islam. Jadi amatlah tepat menamakan ilmu ini dengan filsafat Islam. Artinya ilmu ini lahir di dunia Islam tanpa membedakan etnis dan bahasa. Apalagi ajaran Islam itu sendiri memberikan motivasi yang kuat sehingga tradisi keilmuan dan filsafat mengkristal dengan pribadi yang committed terhadap ilmu dan dakwah Islamiyah yang kuat dan makmur.[7]
Pendapat pars ahli tentang pengertian filsafat Islam; menurut: Mustafa A Razik, pemakaian kata filsafat di kalangan umat Islam adalah; kata hikmah, hal ini di perkuat oleh Dr. Fuad Al Ahwani, bahwa kebanyakan pengarang-pengarang arab menempatkan kalimat hikmah ditempat kalimat filsafat, dan kalimat hakim di tempatkan pada kalimat filusuf. Dan menurut Mustafa A Razik Pula, filsafat Islam; filsafat yang tumbuh di negeri Islam dan di bawah naungan negara Islam, tanpa memandang agama dan bahasabahasa pemiliknya.
Prof Tara Chand, orang-orang nasrani dan yahudi yang telah menulis kitab- kitab filsafat yang bersifat kritis atau terpengaruh oleh Islam sebaiknya di masukan ke dalam filsafat Islam[8]
Drs Sidi Gazalba, Tuhan memberikan akal kepada manusia itu, menurunkan naqal (wahyu/Sunnah) untuk dia. Dengan akal itu ia membentuk pengetahuan. Apabila pengetahuan manusia di gerakan oleh naqal, menjadilah ia filsafat Islam. Wahyu dan sunnah (terutama mengenai yang ghaib) yang tak mungkin di buktikan kebenarannya dengan riset, filsafat Islamiah yang memberikan keterangan, ulasan dan tafsiran sehingga kebenarannya terbukti dengan pemikiran budi yang bersistem, radikal dan umum  (drs. Sidi Gazalba, hal 31).
a.   Karakteristik Filsafat Islam      
1.Filsafat Islam membahas masalah yang sudah pernah di babas filsafat yunani dan lainnya, seperti ketuhanan, alam dan roh. Akan tetapi, selain cara penyelesaian dalam filsafat Islam berbeda dengan filsafat lain. Para filosof muslim juga mengembangkan kedalamnya hasil-hasil pemikiran mereka sendiri. Sebagaimana bidang lainnya (teknik), filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan di perdalam dan disempurnakan oleh generasi yang datang sesudahnya.
2.Filsafat Islam membahas masalah yang belum pemah di babas filsafat sebelumnya seperti filsafat kenabian (Al-nazhariyyat al-nubuwwat).
3.  Dalam filsafat Islam terdapat perpaduan antara agama dan filsafat.
Antara akidah dan hikmah, antara wahyu dan akal. Bentuk pemikiran seperti ini banyak terlihat dalam pemikiran filosof muslim seperti Al Madinat Al Fadhilat (negara utarna) dalam filsafat Al-farabi; bahwa yang menjadi kepala negara adalah nabi atau filosof. Begitu juga pendapatnya pada Nazbariyyat al-nubuwwat (filsafat kenabian); bahwa nabi dan filosof sama-sama menerima kebenaran dari sumber yang sama yakni akal aktif (akal-akal) yang juga di sebut malaikat jibril. Akan tetapi, berbeda hanya dari segi teknis,
          Filosof melalui akal perolehan (mustahad) dengan latihan-latihan, sedangkan nabi dengan akal had yang memiliki daya yang kuat (Al-Qudsiyyat) jauh kekuatannya melebihi akal perolehan filosof Akal had para nabi adalah anugerah dari Allah. Hal ini di peroleh bukan berdasarkan latihan-latihan berfikir. Oleh karena itu, pengetahuan yang di peroleh para, nabi (wahyu) tidak mungkin bertentangan dengan pengetahuan yang di peroleh para filosof.[9]
b.  Dorongan Al-Quran Terhadap Akal Dan Pemikiran Filsafat
          AL-Quran merupakan petunjuk dan pegangan keagamaan, namun di antara isinya mendorong umat Islam supaya banyak berfikir, hal ini di maksudkan agar mereka melalui pemikiran-pemikiran akalnya sampai pada kesimpulan-kesimpulan adanya Allah pencipta alam semesta dan sebab dari segala kejadian di alam ini.
          Kata-kata yang di pakai Al-Quran dalam menggambarkan kegiatan berfikir ialah:
1.     Kata-kata yang berasal dari aqala mengerti, memahami, dan berfikir, terdapat lebili dari 45 ayat diantaranya surat Ai-baqarah: 242.
2.     Kata-kata yang berasal dari Nazara (نظر) melibat secara abstrak dalam arti berfikir dan merenungkan secara nalar. Lebih dari 30 ayat, diantaranya surat Qaf: 6-7
3.     Kata-kata yang berasal dari tadabbara mengandung arti merenung, terdapat dalam beberapa ayat, seperti Surat Shad ayat 29.
4.     Kata-kata tafakkara yang berarti berfddr, surat An-nahl; 68-69.
5.     Kata-kata yang berasal dari Faqihayang berarti mengerti dan faham, terdapat 16 ayat, diantaranya surat Al-isra ayat 44.
6.     Kata-kata yang berasal dari tazakarah yang berarti mengingat, memperoleh peringatan, mendapat pelajaran, memperhatikan dan mempelajari, ada lebih dari 44 ayat. Diantaranya surat An-aahl:17.
7.     Kata-kata yang berasal dari faham  yang berarti memahami dalam bentuk fahamma. Surat Al-anbiya' ayat 78-79.
8.     Ulul Al-bab; orang berftkiran: Surat Yussuf: III. Ulul' ilmi; orang-orang yang berilmu, Surat Ali Imran; I8. ulul abshar: orang yang mempunyai pandangan. QS An-nur: 44. Ulul-Nuha; Orang yang bijaksana Surat Al-anfal 22.[10]
Adapun objek bahasan filsafat terbagi menjadi tiga babasan pokok:
1.       Al-Wujud atau ontologi
2.       Al-Ma'rifat atau epistomologi
3.       Al-Qayim atau aksiologi.[11]
            Pembahasan ontologi mencakup hakikat segala yang ada (At-manjudat) dalam dunia filsafat  "yang mungkin ada"  termasuk dalam pengertian  "yang ada" terbagi menjadi 2 (dua) bidang, yakni fisika dan metafisika - Bidang fisika mencakup tentang manusia, alam semesta, dan segala satuan yang terkandung di dalamnya, baik benda hidup maupun benda mati. Sementara bidang metafisika membahas masalah ketuhanan dan immateri
            Pembahasan epistimologi terjait dengan hakikat  pengetahuan dan cara bagaimana atau dengan sarana apa pengetahuan dapat diperoleh. Pembicaraan tentanghakikat ini ada dua tiori: tiori pertama disebut dengan realisme dan yang kedua disebut dengan idialisme
c.      Hubungan Filsafat Islam dengan filsafat Yunani
Proses sejarah masa lalu tidak bias di elakkan begitu saja bahwa pemikiran filsafat Islam terpengaruh oleh filsafat yunani. Para  filosof Islam banyak mengambil pemikiran Aristoteles dan mereka banyak tertarik pada pemikiran-pemikiran platinus, sehingga banyak tiori-tiori filosof yunani di ambil oleh Islam.[12]
Hubungan Filsafat Islam dengan Ilmu-ilmu KeIslaman
a.      Filsafat Islam dengan Ilmu Kalam
            Dr. Fuad Al-Ahwani didalam bukunya Filsafat Islam tidak setuju kalau filsafat itu sama dengan ilmu kalam, alasannya sebagai berikut :
Ilmu kalam dasarnya adalah keagamaan sedangkan ilmu filsafat adalah pembuktian intelektual.
-    Ilmu kalam lahir dati duskusi-diskusi sekitar Al Qur'an yaitu kalam Allah. Sedangkan filsafat, istilah yunani yang masuk kedalam bahasa arab
-     Pada abad 2 H, setelah lahir filsafat islam, dengan bukti adanya filosuf-filosuf islam seperti Al-Kindi.[13]J
Jelas bahwa perbedaan antara filsafat islam dan ilmu kalam terietak pada metode dan objeknya.
b.      Filsafat Islam dan Tasawuf    
     Menurut Al-Iraqi, tasawuf dalam Islam baik Sunni maupun falasafi termasuk dalam ruang lingkup filsafat islam secara umum, karena kaum Sufi memepergunakan logika dalam mempelajari Al-Hulul, Wandat Al-Wujud, Al- Baqa dan Al-Fana.
c.       Perbedaan antara Filsafat Islam dan Tasawuf:
-          Filsafat memadang dengan mata akal dan mengikuti metode argumentasi dan logika, sedangkan tasawuf menempuh jalan mujahadah (pengekangan hawa nafsu) dan musyahadah (pand؟pgan batin) bahasa intuisi dan pengalaman baitn.
-          Objek filsafat segala yang ada (fisika dan metafisika), sedangkan tasawuf mengenal Allah, baik dengan jalan ibadah maupun dengan jalan ilham.
-          -Saling kritik antara kaum sufi dan kaum filosuf Islam seperti kritik Al- Ghazali terhadap filsafat dan kritik Ibnu Rusyd terhadap tasawuf.
d.      Filsafat Islam dan Ushul Fiqh
Penyusun disiplin ilmu ini (usul fiqh) pertama kali adalah Al-Syafi'i, dengan bukunya : Ar-Risalat. Ilmu Usul Fiqh dalam menetapkan hukum syari'at juga mempergunakan pemikiran filosofis, bahkan ia cenderung mengikuti ilmu logika dengan cara, memberikan definisi-definisi terlebih dahulu. Dalam menafsirkan aya،ayat Al-Qur'an yang berkenaan dengan hukum diperlukan ijtihad.[14]
a.      Pendapat Tokoh-Tokoh Islam Tentang Kefilsafatan
Para Filsafat Islam di Dunia Islam Timur
1.      Pemikir terkemuka, Abu Aly Al-Husayn Ibnu Sina. berkata : untuk menghilangkan keraguan yang melekat pada anda dalam menerima kebenaran kenabian, disebabkan oleh karena adanya kemungkinan bahwa pengakuanpengakuan para Nabi itu mengandung hal-hal yang hanya bersifat mungkin (mungkin, boleh jadi) tetapi diperlakukan sebagai wajib (bersifat pasti), tanpa ditopang oleh suatu argnmentasi, baik yang burhani (demonstratif) maupun yangjadali (dialektik) atau sebaliknya pengakuan- pengakuan tersebut mengandung hal-hal yang tidak masuk akal .[15]
Wahyu adalah bentuk pancaran, dan malaikat adalah kekuatan yang memancarkan, yang diterima oleh Para Nabi dan yang turun kepada mereka, seolaholah ia merupakan pancaran yang bersambung dengan intelek universal. Disebabkan kekhususan para penerimanya. Syarat bagi seorang Nabi menurut Ibnu Sina ialah :
Hendaknya ucapan-ucapanya merupakan simbul-simbul dan keterangan- keterangannya merupakan isyarat.[16]
Al-Kindi, nama lengkapnya : Abu Yusuf Ya'qub Bin Ishaq Ash-Shabbah Bin Imran Bin Ismail Bin Al Asy'ats Bin Qays Al-Kindi, lahir di Kufah Tahun 185 H (8011M) lahir di kindah (selatan jazimb arab). Menurutnya para Nabi memperoleh pengetahuan lewat jalan lsyraqi (iluminasi) yaitu : langsung dari pancaran Nur Ilahi, tanpa usaha bersusah payah, tanpa memerlukan waktu, Tuhan mensucikan jiwa mereka dan diterangkanNya padajiwa mereka untuk memperoleh kebenaran dengan jalan wahyu.
Untuk memberi contohnya, Al-Kindi mengutip pertanyaan orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad SAW tentang : Bagaimana mungki Tuhan menghidupkan kembali tulang-tulang yang hancur menjadi tanah ? Termajtub dalam surat Yasin ayat 78-82, ayat ini dijawab oleh Nabi dengan turunnya Wahyu[17]
Al- Kindi memberikan penjelasannya: tak ada bukti bagi akal yang bersih dan yang lebih gamblang dan ringkas dari pada yang tertera dalam ayat-ayat AL-qur-an tersebut, yaitu: bahwa tulang  belulang yang benar-benar telah terjadi setelah tiada sebelumnya adalah sangat mungkin apabila telah rusak dan busuk ada kembali. Mengumpulkan barang-barang berserakan lebih mudah dari pada membuatnya dari tiada meskipun bagi Tuhan tudak ada hal yang dikatakan lebih mudah atau lebih sukar. Adanya tulang belulang dari tiada adalah  hal yang sangat jelas di amati dengan indera, lebih-lebih dipikirkan dengan akal.
2.      AR –Razi
 Nama lain Al Razi: Abu Bakar Muhammad Ibnu Zajaria Ibnu Yahya Al-Razi, lahir di Rayy, Iran tanggal 1 sya’ban 251H/1865 M.
Ar-Razi lebih di kenal sebagai seorang dokter yang termasyhur, baik di dunia timur dan barat. la hidup pada masa pendewaan akal secara berlebihan, Tuhan yang maha ؛Sebagaimana Mu'tazilah. la seorang muslim yang mengaku bijak, tetapi tidak mengalcui wahyu-Nya/ajaran dan kenabian. Pokok-pokok terhadap kenabian dengan alas an:
a.       Akal sudah memadai untuk membedak antara baik dan yang jahat,  yang berguna dan yang tidak berguna. Dengan akal saja manusia mampu mengetahui Allah dan mengatur kehidupannya dengan sebaik-baiknya.
b.      Tidak ada alasan yang kuat bagi pengistimewaan beberapa orang untuk membimbing semua orang karena yang lahir dengan kecerdasan yang lama. Perbedaan manusia bukan karena pembawaan alamiah, tetapi karena pengembangan pendidikan.
c.       Para Nabi saling bertentangan, pertentangan tersebut seharusnya tidak ada jika mereka berbicara atas nama Allah.[18]
Menurut A.latif Muhammad Al-'abd bahwa tuduhan Al-Razi tidak mempercayai kenabian adalah didasarkan pada buku Makhariq Al-Anbiya (tipu daya para nabi-nabi), buku ini di baca dalam pengajian-pengajian kaum zindik, terutama Qaramithah. Bagian dari buku ini terdapat dalam buku A'Iam Al- Nubuwah karya
Abu Hasim, Al-Razi (lawan politik Abu Bakar) Al-razi seorang tokoh syiah Islamiyah yang tidak pemah ditemukan, oleh karena itu kebenarannya di ragukan. Andai kata buku-buku itu ada tentu saja tidak bertentangan dengan buku-buku Al-Razi sendiri Al-Thibb Al-Ruhani, Al-Sirah Al falasifah.
Al Ghazali dalam Altahafut Alfalasifah mengecam keras bahkan menghukum kafir dan mereka wajib dibunuh para filosof yang tidak mengakui kenabian. Kutipannya sebagai berikut:' ketiga hal ini tidak sesuai dengan Islam dari sisi manapun, orang yang meyakininya berarti berkeyakinan bahwa para nabi (semoga rahmat dan shalawat Allah senantiasa jadi pencerah kepada mereka semua) berbohong, dan mereka mengatakan bahwa apa yang mereka sampaikan adalah menurut kemaslahatan sebagai metafora dan penjelasan kepada semua makhluk".
3.      Al Farabi
Nama lengkapnya adalah Abu Nasr Muhammad Ibn Al Farakhi Al farabi tapi lebih di kenal dengan nama Al-farabi atau avennasar. Para ilmuwan barat menganggap bahwa Al farabi sebagai guru kedua (the second master). Proyek terbesar yang di lakukan Al-farabi adalah menggabungkan ilmu. filsafat Yunani dengan Syariat Islam. Al Farabi lahir di desa Wasij kota Farab tahun 257 H/870M di negara turki.
Karya-karya nyata Al Farabi:
-          Al-Jami'u Baina Ra'yi Al hakiimin Al Falatani Al Hahiy Wa Aristhothails (pertemuan/penggabungan antara pendapat Plato dan aristoteles) - Tahsilu As-Sa'adah (mencari Kebahagiaan)
As Suyatu Al Madinati Al Fadhila (pemikiran-pemikiran utama pemerintahan) dll.
Persoalan-persoalan kenabian ada pada agama, tetapi agama samawi (langit), yaitu secara essential berasal dari pemberitahuan wahyu dan ilham (inspiras). Seperti yang termak-tub dalam Al Quran Surat An-najm: 3-5. selain wahyu, impian juga merupakan alat perhubungan dengan Tuhan, karena jiwa yang suci pada waktu tengah tidur naik ke alam gaib, di sana ia melihat rahasia- rahasianya. Nabi Muhammad SAW mulai dakwahnya setelah melihat impian- impian. Impian yang benar merupakan satu bagian dari bagian kenabian. Aliran-aliran yang menyebarkan propaganda dualisme dan mengancurkan ide monotheisme sebagai tiang penyangga Islam; Madzahiyah dan Mana’iyah dari persia, samani dan aliran Bramanisme-hindu yang mempropagandakan reinkamasi dan menolak kenabian, masyarakat yahudi menulis tafsir Israil liyat yang menyakatan messianisme (Rajah) dan Al-quran sebagai makhluk. Sebagai tandingan aliran Islam menentang dari pendapat di atas adalah: aliran mu'tazilah. Washil bin Atha؛dan Amr bin Ubaid menentang Basyr bin Bard dan Shalih Abd Qudus dari persia Abu Huzail Al Allaf menandingi Al Allaf menandingi penganut dualisme di Basrah.
a.       Hanafi, MA mengkritik AJ farabi dalam bukunya Filsafat Islam:
"teori Al Farabi telah menempatkan nabi di bawah filsuf karena pengetahuan yang di peroleh melalui fikiran lebih tinggi daripada yang di peroleh melalui imajinasi (akal fa'al), dan apabila seorang nabi dapat berhubungan dengan akal fa'al melalui pemikiran dan renungan, maka kenabian menjadi semacam ilmu pengetahuan yang bisa di capai dengan usaha (muktasab); tafsiran terhadap wahyu banyak yang bertentangan dengan nas-nas agama.

4.       Ikhwanul Shafa'
(Persaudaraan Suci) adalah nama sekelompok pemikir islam yang bergerak secara rahasia dari sekte syiah Ismailiyah pada abdad ke 4 H (10 M) di Basrah. Menurut mereka tujuan utama agama dan filsafat adalah: sama, filsafat bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah sejauh kemampuan manusia dengan dasar ilmu yang benar. Sedangkan agama dapat meneapai kebahagiaan, baik di dunia maupun akhirat. Mereka juga memadukan semua agama-agama untuk menjadi satu agama khusus yang didasari atas asas filsafat. Tujuannya untuk melahirkan Al-talfiq (kelektik) memadukan semua pemikiran yang berkembang pada waktu itu, Persia, Yunani, semua agama, sumber ajaran mereka ialah : Nuh, Ibrahim, Sokratis, Plato, Zoroaster, Isa, Muhammad, dan Ali.[19]
5.      Ibanu Maskawaih
         Ibanu Mskawaih nama lengkapnya: Abu Ali AlKhasim ahmad bin Ya'qub bin Maskawaih. Lahir di Ray (Teheran), 320 H / 932 M Wafat 9 Safar 421 H / 16 Februari 1030 M. seorang filosof muslim di bidang etika dikenal sebagai Guru Ketiga.
         Menurutnya segala yang ada di alam mengalami proses evaluasi. Manusia pun pada gilirannya mengalami evolusi juga sampai mendekati tingkat malaikat. Para Nabi yang menjadi perantara hubungan antara alam Ketuhanan dengan alam dunia, kedudukan mereka sangat tinggi dibanding manusia lainnya. Para Nabi memperoleh kebenaran-kebenaran yang hakiki tidak dengan jalan berfikir, tetapi dengan jalan wahyu, tingkatan nabi lebih tinggi dari filosof Karena Para nabi memperoleh kebenaran langsung dari Tuhan, bukan lewat pemikiran seperti filosof, hal senada telah diungkapkau oleh Al-Kindi.[20]
6.      Suhrawardi Al Maqtul
         Suhrawardi Al Maqtul Nama lengkapnya: Abu Al Futuh Yahya Ibnu Amrak, lahir di Suhraward 550 H dibunuh tahun 578 ia berpendapat tentaug peringkat filosof yang tersibukkan masalah-masalah ketuhanan serta penelitian itu lebih tinggi ketimbang peringkat Para Nabi. Bahkan menurut Ibnu Taimiyyah (meninggal 727 H) melancarkan tuduhan bahwa Al-Suhrawardi mengaku-aku sebagai Nabi. Selain itu Al Suhrawardi mengkompromikan teori dan penglahian, menghampirkan pada agama Zoroaster, menguasai sihir, dia dianggap Zindik. Atas perintah Salahuddin Al-Ayyubi dia dibunuh di Aleppo.
7.      Al-Ghazali
         Al-Ghazali telah dibahas sebelumnya (kritikannya terhadap Para filosof yang tidak mengakui kenabian) Nama lengkapnya: Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Abu Hamid Al-Ghazali lahir di Thus, Khurasan pada tahun 450 M.
         Al-Ghazali membuat garis pemisah antara iman dan kufur, dengan menyatakan: kufur adalah mendustakan rasul tentang apa yang dibawanya sedang iman ialah mempercayai tentang semua yang dibawanya. Orang Yahudi dan Masehi adalah kafir karena keduanya mendustakan rasul. Orang-orang agama Brahmana lebih-lebih lagi, karena mengingkari semua rasul-rasul termasuk Rasul Muhammad SAW, kemudian menyusul orang-orang agama dualisme, omag-orang zindiq dan orang-orang materialis. Mereka semuanya adalah orang-orang musyrik, dan setiap orang yang mendustakan rasul adalah orang kafir, ini adalah garis pemisah yang berlaku terus.[21] Para Filsafat Islam di Dunia Islam Barat
8.      Ibnu Bajjah
         Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya al-Sha'igh, lahir di Saragosa 11 M, di barat dikenal dengan Avemapace.
         Ibnu Bajjah secara tidak langsung setuju dengan pendapat Al-Farabi bahwa konstitusi disusun oleh kepala Negara, yang/telah disamakan oleh Al FArabi dengan seorang Nabi atau imam, ia menyatakan bahwa manusia takkan mencapai kesempumaan kecuali lewat yang dibawanya oleh Para Rasul dari Tuhan yang Maha Tinggi (Syariah).
9.      Ibnu Tufail
Nama lengkapnya: Abu Bakar Muhammad Ibn Abd Al-Malik Ibn Muhammad ibn Muhammad Ibn Tufail. Ia pemuka pertama dalam pemikiran fdosofis Muwahhid yang berasal dari Spanyol. Lahir pada abad VI H Kota Guadix, Provinsi Granada
IbnuTufail menulis sebuah risalah yang dramatis yaitu Hai ibn Yazzan, la lahir di pulau yang tidak berpenghuni. Ia diberi makan oleh seekor rusa kecil, ia diajari oleh pikiran alamiah atau akal sehat. Setelah rusa yang memeliharanya mati Hay mulai bertanya siapa yang mematikan rusa? Dengan ini sampailah pemikiran Hay kepada Ketuhanan. Di pulau lain yang berpenduduk banyak dan manusianya selalu dalam maksiat ada seorang alim nama Absal yang melarikan diri ke pulau Hay. Maka mereka berdua bertukar pikiran. Akhimya mereka mengembara ke pulau lain yang banyak penduduknya dan mengajari mereka. Pertama Hay gagal dalam memberikan penerangan dengan jalan memberi konsep-konsep mumi. Begitu juga dengan nabi berlaku bijak dengan memberi mereka bentuk-bentuk yang dapat ditangkap oleh indra dan bukannya penerangan melulu. Agama diperuntukkan bagi semua orang, tapi Filsafat hanya untuk orang tertentu saja Hay kemudian mengerti maksud agama yang menuntun langsung fitrah dan keselamatan orang banyak.
10.  Ibnu Rusydi
Abu Al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibnu Rusyd, lahir di Cordova, Andalus tahun 510 H / 1126 M.
Menurut Ibnu Rusyd pembuktian yang dibicarakan oleh Al-Farabi dan Ibnu Sina, bahwa pembuktian kerasulan para ulama dalam menyatakan apabila orang berbicara dan berkehendak dapat mengutus hamba-hanibanya, melalui jalan qiyas, namun jalan tersebut hanya bisa membawa jalau yang mungkin saja, tidak bisa disebut qiyas berhani (qiyas yang meyakinkan) hanya bersifat memuaskan hati.[22]
Ibnu Rusyd tidak puas dengan pembuktian yang dilakukaa oleh para ahli kalam, baik kepada kerasulan secara umum ataupun kepada Nabi Muhammad secara khusus. Yaitu dengan mukjizat-mukjizat yang ada pada rasul-rasul. la mengatakan bahwa Nabi Muhammad mengaku dirinya sebagai nabi dengan mengemukakan hal-hal yang menyimpang dari hnkum alam atau (seperti mukjizat) untuk mengalahkan orang-orang yang menantangnya. Ketika orang-orang Quraisy meminta tanda-tanda ٠ kerasulannya, maka Nabi diperintahkan Allah untuk menjawab : Maha suci Allah, aku ini tidak lain hanyalah manusia yang menjadi rasul (baca Q.S Al-Isra: 92- 93).[23]
Bagi Ibnu Rusyd, pembuktian Al-Quran adalah sebagai mukjizat dengan membaca dan memahami benar-benar, maka didalamnya akan nampak hal-hal yang ghaib yang tidak dikenal oleh Nabi Muhammad itu sendiri sebelum menerima wahyu. Sangat logis dan pantas sekali Al Qur’an diturunkan melalui Nabi Muhammad karena Ia seorang yang ummi: (Q.S Al-Ankabut: 48).
Mukjizat menurut Ibnu Rusy ada  dua Yaitu:
1.  Mukjizat luaran (al karami) yakni mukjizat yang sesuai dengan sifat karena seorang nabi menyentuhnya orang sakit, membelah laut.
2.  Mukjizat yang sesuai (al immatib) dengan sifat kenabian tersebut: syariat (peraturan) yang dibawa untuk kebahagiaan manusia.[24]
11.  IbnuHazm
Ia adalah Abu Muhammad Ali bin Said Haim, di Cordova, bulan Ramadhan 384 H /994 M.
Menurutnya kaum Brahma hanya mempercayai Nabi Adam dan Syits. Hal ini sesuai dengan pendapat Abu Muhammad An-Nub Khafi, Al Biruni, al Qasim. bin Ibrahim. Golongan Brahma fai menurut pendapat Sayid Al Fayumi disebut juga dengan kaun Ibrahimiyah, yaitu yang menerima wasiat dari para leluhur mereka. Beliau membenarkan adanya kenabian dan kebutuhan manusia kepada risalah dan wahyu Allah SWT, walaupun yang kita percayai dengan jalan mutawatir tidak melihat langsung. Mukjizat juga mempakan salam, satu tanda kenabian.[25]
3.    Penjabaran Dari Teori Emanasi (Membuktikan Tuhan Di Awal-Awal Islam)
1.      Proses penciptaan Alam dimulai dari penyatuan antara ruang alam dan materi dari sesuatu yang padu (Al-Anbiya’ ayat 30) kemudian terjadi pemisahan oleh allah dengan mengalami proses transisi membentuk dukhan. Setelah itu ruang alam melebar, meluas, dan memuai (Adz-Zariyat ayat 47). Proses penciptaan alam berlangsung selama enam periode, dimana empat periode penciptaan bumi dan dua periode penciptaan langit (Al-Fushilat ayat 9-12).
2.      Penciptaan alam dalam pandangan kosmologi modem, secara kronologis alam
tercipta bermula dari ruang kosong, kemudian inti atom padat meledak, lalu menjadi galaksi, dan menjadi bintang-bintang dengan tata suryanya sendiri- sendiri.
3.    Hubungan antara penciptaan alam dalam pandangan islam dan sains modem
adalah bersesuaian. Keduanya sama sekali tidak bertentangan sehingga adanya sains modem dapat mengungkap rahasia proses penciptaan alam yang terdapat dalam Al-Qur’an.[26]
a.    Pengertian metode
Metode adalah sebuah cara dan langkah yang ditempuh untuk mengahasilkan sebuah sistem yang baik dan benar demi tercapainya tujuan
b.      Metode dan cara berfikir dalam Teori Emanasi
-          Beberapa sifat penting dari emanasi Wujud diberikan sebagai berikut : Emanasi Wujud tidak tergantung waklu maupun ruang, bahkan ruang dan wak،u-lah yang tergantung padanya. Jadi tidak dapat ditanyakan kapankah (atau dimanakah) emanasi terjadi? Atau bahkan dapat dikatakan pula setiap saat di setiap ruang apa pun atau pun di setiap sesuatu yang tak dapat diperikan oleh ruang dan waktu apa pun terjadi emanasi Wujud.
-          Semua sesuatu selain Wujud dalam emanasi tidak memiliki Wujud sejati. Karena menurut ashalah al-wujud Yang Nyata Wujud-Nya hanyalah Wujud. Dan mahiyyah hanyalah memiliki eksistensi “imajiner”.
-          Sehingga semua selain Wujud hanyalah ada di alam mental. Karena itu tidak salah kalau semua selain Wujud disebut Akal.Sehingga sesuatu yang pertama muncul dari Wujud disebut sebagai Akal Pertama atau Akal Universal. Karena seluruh akal lain meniscayakan eksistensinya sebagai dalam rantai kausalitasnya.
-          Atau terkadang Akal Pertama juga disebut sebagai Nur Muhammad. Karena nuur inilah yang memungkinkan Wujud menyatakan dirinya dalam selainnya di alam akal, sehingga secara reciprocal dapat dinyatakan nuur inilah yang memberikan “eksistensi mental pertama” , “pemahaman pertama”, Wujud atas dirinya sendiri. Nuur inilah yang memungkinkan Wujud menyatakan dirinya dalam selainnya di alam akal, sehingga secara reciprocal dapat dinyatakan nuur inilah yang memberikan “eksistensi mental pertama” , “pemahaman pertafria”, Wujud atas dirinya sendiri. Nuur inilah Kegemilangan Mata Air Wujud dalam “memuji / memahami” dirinya sendiri.
-          Sehingga tak salah jika dikatakan seluruh-nya “dicipta” dari Nur Muhammad. Sebagaimana dipercayai •oleh sebagian orang, bahwa yang pertama kali dicipta adalah Nur Muhammad, dan semua selain itu diciptakan lewat eksistensi Nur Muhanimad.
-          Jelas tahapan Nur Muhammad tak terbatas ruang dan waktu. Karena ruang maupun waktu terbagi sedang Nur Muhammad tak terbagi.
-          Dan eksistensinya sebagai sebab niscaya pada se-gala selain Wujud. Rantai emanasi manapun pasti melewatiny
-          Sehingga benarlah jika kita katakan bahwa “dalam” segala “terdapat” Wujud maupun Nur Muhammad. Walau harus dipahami tidak ada persatuan material apa pun.[27]






PENUTUP

1.  Kesimpulan
a.       Masalah kerasulan merupakan masalah keimanan yang harus kita yakini, dan hal ini bisa dibuktikan dengan akal dan wahyu.
b.      Tugas filsafat, khususnya filsafat Islam tentang khazanah ilmu-ilmu keislaman membahasnya dengan rasional, radikal, kritis dan ٠ menyeluruh, tetapi tidak boleh menyimpang dari esensi-esensi yang telah diajarkan dalam Alqur'anul karim.
c.       Setiap filosof mempunyai argumen-argumen yang berbeda satu sama lainnya, saling mengkritisi, itulah kajian filsafat tidak akan pernah puas dengan penemuan-penemuan sebelumnya, selalu ingin mengkaji.
2.      Saran
Diharapkan dengan kajian ini akan lebih membuka cakrawala pemikiran kita tentang khazanah pemikiran islam, terutama di bidang filsafat. Kita jangan hanya bisa mengkritisi, tetapi juga harus'memberikan konstribusi yang berguna untuk kemaslahatan umat.  Kita jangan hanya menerima sesuatu doktrin tanpa kita kaji lebih mendalam lagi.















DAFT AR PUSTAKA
1.      Alqur'anul Karim dan Terjemahannya
2.      A. Mustafa, Filsafat Islam, Bandung, Pustaka Setia. 2007.
3.      Atang A. Halim, Beni Ahhmad Saebeni, Filsafat Umum dari Mitologi sampai Teori filosofi, Bandung, Pustaka Setia, 2008.
4.      Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa ,Terjemah Tafsir AI-Maraghi. Semarang: CV Toha Putra,1989.
5.      C.A. Qadir, Filsafat dan llmu Pengetahuan dalam Islam, Pustaka Obor Indonesia, 2002.
6.      Dardiri, Humaniora Filsafat dan Logika, Rajawali, Jakarta, 1986,
7.      Harun Nasution, Falsafah Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1973.
8.      Hasyim Syah Nasution, Filsafat Islam, Cet I, Bandnng, Pustaka Setia, 2007.
9.        Ismail Asy Syarafa, Ensiklopedi Filsafat Penerjemah, Shofiyuilah Mukhlas, Cet Pertama, Jakarta, Khalifa, 2005
10.  Mahmnd Ali Himayah, Ibnu Hazm: Biografi, Karya dan Kajiannya Tentang Agama-agama, Jakarta, Lentera, 2001.
11.  Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, Jakarta, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsiran Al-qur'an, 1983.
12.  Nurcholis Majid, Khazanah Intelektual Islam, cet ke 3, Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
13.  Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, Filosof dan Filsfamya, Edisi 1-2 Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2007.
14.  Syed M. Naquib Al-Attas, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam (terjemahan), Mizan, 2003.
15.  Syamsul Rizal, dkk. Studi Filsafat Umum, Fakultas Ushuluddin IAIN Ar- Raniry, B. Aceh. 2003,
16.  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka.
17.    Zar, Sirajuddin, Konsep Penciptaan Alain Dalam Pemikiran Islam, Sains dan Al-Qur'an. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1994.



[1]Dardiri, Humaniora, Filsafat Logika, Rajawali, Jakarta, 1986 hat 9.
[2] Harun Nasution, Falsafah Agama, Bulp. Bintang, Jakarta, 1973 hat, 7
[3] Departemen Pendidikan dan kebudayaan , Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke 2 Jakarta, Balal Pustaka, cet hat
[4]Penulis Fuadi dkk, Pengarah Danil Djunet, dkk, editor: Syamsul Rizal, dkk, Study Filsafat Umum , Fakultas Ushuluddin Ar-Raniry 2003, hat, 1.
[5]Mustofa, Filsafat Islam, cetakan I, Bandung, Pustaka Setia, hat: 16
[6]Menurut Harun Nasution, Filsafat Agama (Jalarta, Bulan Bintang, 1979), hal: 9
[7]Hayim Syab, Filsafat Islam……….hak.4
[8]Prof Tara-Chand
[9]Sirajuddin Zar, Filsafar, Filosof dan Filsafarnya…….hal
[10]Harun Nasution, Akal dan Whayu dalam Islam, (Jakarta: UI, 1983 cetak II, hat 3948.
[11]Sirajuddin Zar, Filsafat Islam dan Filsafatnya hat 6
[12]A. Mustofa, Filsafat Islam,cet I Bandung, Pustakam Setia 2009 hak 20
[13]A. Mustofa Filsafat Islam,…………hal 22.
[14] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam…….hal 27
[15] Nurcholis Majid, Khazanah Intelektual Islam, Cet ke-3, Jakarta Bulan Bintang, 1994…..hal 137.
[16] Nurcholis Majid, Khazanah Intelektual Islam……hal138.
[17] Mustofa, Filsafat…hal 99
[18] Mustofa, Filsafat Islam…..hal 125
[19] Sajuddin Zar, Filsafat Islam……..hal 144-147
[20] Mustofa, Filsafat Islam…….hal 175-176

[22] A. Mustofa, Filsafat Islam….hal 273-274
[23] A. Mustofa, Filsafat Islam,…….hal304
[24] A. Mustofa, Filsafat Islam,…….hal304-305
[25] Mahmud Ali Himayah, Ibnu Haim Biografi, Karya dan Kajiannya Tentang Agama-agama, Jakrta: Lentera Basitama,2001.
[26] Al-Maragi, Ahmad Mushthafa, Terjemahan Tafsir Al- Maraghi, Semarang: CV Toha Putra, 1989
[27] Zar, Sirajuddin, Konsep Penciptaan Alam Dalam Pemikiran Islam, Sains dan Al-Qur’an. Jakarta: PT Raja Grafmdo Persada. 1994.
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Makalah Khaidir - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger